Critical Success Factor (CSF) adalah Istilah untuk suatu elemen yang diperlukan untuk suatu organisasi atau prayek untuk mencapai misinya. Ini adalah faktor kritis atau aktivitas yang diperlukan untuk menjamin keberhasilan sebuah perusahaan atau organisasi. Critical Success Factor menurut Maciariello & Kirby adalah sebagai berikut:
“The Importance of Identifying those relatively few variables that are crucial to the attainment of strategy, goals, objectives then is ultimmately derived from Limited information processing ability of the manager. We call these crucial variables Critical variable or Critical Success factor”:
Selain ini Critical Success Factor disimpulkan juga sebagai:
“Critical Success Factors are thosevariables that are at least partially out of the control of management to those values the strategy, goals, and objectives organization are most sensitif”.
Konsep “faktor keberhasilan dikembangkan oleh D. Ronald Daniel dari McKinsey & Company pada 1961. Proses ini disempurnakan oleh John F. Rockart pada 1981. Pada 1995. James A. Johnson dan Michael Friesen menerapkannya untuk pengaturan berbagai sektor.
1.Pengukuran kesuksesan selama implementasi proyek (doing it right) seperti pada aspek biaya, waktu, dan mutu.
2 Kriteria sukses mengikuti pelaksanaan proyek (getting it right), di mana termasuk pengaruh pada outcome bisnis pelanggan yang dihasilkan dari proyek, dan bagaimana proyek itu mempersiapkan organisasi untuk masa depan.
Sejalan dengan pendapat Atkinson di as, penelitian lain oleh Shenhar et al., mengidentifikasi 4 dimensi kesuksesan, yaitu
1.Efisiensi proyek;
2.Pengaruh pada pelanggan;
3.Kesuksesan bisnis secara langsung dan organisasional;
4.Mempersiapkan masa depan.
Sedangkan Shatz memaparkan tools yang dinamakan “slider” dalam determinasi kesuksesan proyek, yaitu:
1.Slider 1: Level kepuasan Stakeholder;
2.Slider 2: Sesuai dengan tujuan dan persyaratan;
3.Slider 3: Sesuai Budget;
4.Stider 4: Sesuai Deadline:
5.Slider 5: Pesyaratan Added-Value;
6.Slider 6: Persyaratan Kualitas; dan
7.Slider 7: Kepuasan Tim.
Pada penelitian Thomas, Tucker, dan Kelly, mengutip dari penelitian oleh Ashley et al., menyatakan bahwa kesuksesan diukur oleh biaya, jadwal, kualitas, keamanan, dan kepuasan Kelima.
Drickhamme rMengutarakan bahwa pengidentifikasian CSF merupakan salah satu proses perencanaan yang penting dalam pencapaian tujuan proyek di mana berada di dalam constraints waktu, biaya, dan kualitas.
Kuen, Zallani dan Fernando sebagaimana mengutip dari Mobey dan Parker, menyatakan bahwa dalam usaha peningkatan peluang keberhasilan suatu proyek, adalah penting bagi organisasi untuk memiliki pemahaman dari apa itu CSF, untuk menilai secara sistematis dan kuantitatif CSF tersebut mengantisipasi efek-efek yang mungkin terjadi, dan kemudian memilih metode dalam menghadapinya. Dengan demikian, melalui identifikasi CSF, keberhasilan proyek diharapkan dapat tercapai.
Mereka juga membuat suatu ringkasan akan CSF yang telah diidentifikasikan oleh peneliti terdahulu.
Berdasarkan pada perkembangan CSF, sebagaimana mengutip dari Belout (1998), terlihat bahwa pada awalnya terdapat dominasi dari sistem teknis dan hanya sedikit indikasi dari pertimbangan akan sistem tingkah laku (behavioral system) Saat ini manajemen proyek telah banyak berkembang dan pengembangan teoritis telah mengarah pada prinsip-prinsip organisasi dan tingkah laku (behaviour).
Naoum, Fong, dan Walker (2004), dalam penelitiannya dalam mengidentifikasi CSF yang berkontribusi pada keberhasilan suatu manajemen proyek, menemukan bahwa terdapat 10 CSF, yaitu
1.Pembentukan tujuan proyek dan kriteria klien;
2.Tingkat partisipasi tim proyek dalam decision making;
3.Kejelasan skop dan definisi pekerjaan;
4.Karakteristik manajer proyek,
5.Organisasi klien:
7.Teknik perencanaan dan pemrograman;
8.Proses seleksi dalam pembentukan tim,
9 Kewenangan dan pengaruh manajer proyek; dan
10.Estimasi biaya proyek.
Penelitian atas CSF memiliki manfaat yang sangat signifikan terutama dalam bidang konstruksi dan Manajemen Proyek, di antaranya adalah (Permono):
1.Untuk meminimalkan variasi yang banyak sepanjang implementasi proyek (Torp, Austeng, dan Mengesha: 2004).
2.Untuk mengantisipasi efek-efek yang mungkin terjadi,kemudian memilih metode yang dapat diterapkan untuk mengatasinya (Mobey dan Parker: 2002).
3.Dapat memprediksi kesuksesan proyek, yang disertai dengan tindakan-tindakan: menolak proyek yang berpotesi tidak sukses, mengidentifkasi proyek yang layak untuk dikerjakan, mengidentifikasi masalah pada proyek yang sedang berjalan dan mengambil tindakan koreksi (Sanvido, Grobbler, Parfitt, Guvenis dan Coyle: 1992).
4.Lebih memungkinkan pencapaian kepuasan client, mempertahankan reputasi, dan mendapatkan kontrak tambahan dalam kompetisi yang terus meningkat (Parfitt dan Sanvido: 1993).
Sumber Panduan Lengkap Menyusun SOP & KPI Fajar Nur'aini D.F, M.psi, 2020




