Jadi, pekerjaan menyusun S.O.P. adalah pekerjaan yang dilakukan seumur hidup perusahaan itu. Awalnya, Anda mungkin dapat dibantu oleh penyusun SOP yang berkompeten. Tetapi untuk mengembangkan SOP itu, Anda harus melakukannya sendiri. Kecuali Anda memiliki anggaran berlebih untuk membayar penyusun SOP mengawal penerapan SOP tersebut tanpa batas waktu. Ini sama halnya dengan Anda menyewa pengacara selama periode waktu tertentu untuk mengawal semua perbuatan hukum yang Anda lakukan. Anda membayar fee tiap bulan kepada pengacara. Pengacara tersebut akan mendampingi Anda setiap saat dibutuhkan.
Inilah sebabnya banyak orang ingin menjadi konsultan SOP Sebab profesi konsultan SOP itu sangat menjanjikan. Sayangnya, banyak orang yang tidak memiliki kualifikasi sebagai konsultan SOP berani menawarkan jasa menjadi konsultan SOP Waspada dengan pihak-pihak yang memanfaatkan peluang seperti ini.
Jika Anda tidak memiliki anggaran tersebut, mau tidak mau Anda sebagai pemilik atau pimpinan perusahaan yang mengambil alih tugas untuk mengubah atau menambah SOP sesuai dinamika bisnis dan kebutuhan perusahaan. Sangat disarankan perusahaan memiliki satu orang karyawan yang khusus bisa mengembangkan SOP.
Contoh:
1.Sebelum tahun 2000, transaksi rata-rata menggunakan sistem tunai. Setelah tahun 2000, transaksi berkembang menjadi transaksi non tunai (menggunakan kartu kredit atau kartu debet). Jika Anda masih menggunakan SOP berbasis transaksi tunai, mau tidak mau Anda harus mengubah dan menambah SOP tersebut dengan sistem transaksi non tunai. Jangan sampai Anda kehilangan potensi melakukan transaksi hanya gara-gara Anda tidak menerima transaksi non tunai. SOP transaksi non tunai tidak menghilangkan SOP transaksi tunai. Anda tinggal menambahkannya saja. Anda diuntungkan jika SOP yang Anda terapkan adalah SOP yang dinamis, sehingga penambahan sistem transaksi non tunai tersebut tidak mengubah sistem kerja yang membuat karyawan stres.
Jangan dikira di zaman modern begini, sudah tidak ada lagi yang menggunakan SOP statis loh. Baru-baru ini, sekitar dua bulan sebelum buku ini mulai sava mlis (sekitar bulan Januari 2016), ayah saya sakit dan dirawat di rumah sakit. Waktu itu biaya perawatan mencapai belasan juta rupiah. Saya jelas tidak pernah membawa uang sebanyak itu di dompet. Sejak tahun 2012, saya lebih sering melakukan transaksi via kartu debet atau m-banking. Saya sodori kartu debet beberapa bank, semuanya ditolak oleh kasir. Bahkan saya tawari transfer via m-banking yang hanya membutuhkan waktu beberapa detik, juga ditolak oleh kasir. Pembayaran harus tunai!
Masya Allah! Celakanya, ATM bank-bank besar milik pemerintah pun tidak ada di rumah sakit tersebut. Terpaksa saya harus keluar rumah sakit untuk menarik uang di beberapa ATM pinggir jalan. Saya tidak habis pikir. Di abad 21 ini masih saja ada rumah sakit yang menerapkan sistem pembayaran tunai. Bagaimana mungkin rumah sakit ini mampu bersaing dengan rumah sakit lain yang sangat memanjakan pasien dan keluarganya? Selama ini saya mer terbiasa menggunakan jasa rumah sakit swasta yang menerima transaksi dengan kartu debet semua bank, melayani semua jenis asuransi, semua data pasien computerized, transaksi sangat cepat. Sangat membantu pasien untuk sembuh.
2.Sebelum ada smartphone dan sistem aplikasinya, kita harus memesan taksi melalui telepon ke operator perusahaan taksi tersebut. Itu SOP cara pemesanan taksinya. Celakanya, menelpon ke operator taksi bukanlah perkara mudah. Jalur selalu sibuk, ada nada dering tidak terangkat, begitu sudah diangkat ternyata kehabisan armada. Menjengkelkan sekali bukan? Setelah ada smartphone, muncul sistem aplikasi pemesanan jasa taksi online. Konsumen seperti saya yang mobilitasnya sangat tinggi, terbantu sekali. Kita bisa mendapatkan jasa taksi dengan lebih mudah, lebih cepat dan lebih murah. Celakanya lagi, perusahaan-perusahaan taksi besar yang menerapkan SOP statis cara pemesanan tidak mau berubah. taksi itu
Hasilnya, mereka kalah bersaing dengan taksi online. Seharusnya, sangat mudah sekali bagi perusahaan-perusahaan besar ini untuk menyusun dan menerapkan SOP baru tentang cara pemesanan taksi online. Mengapa hal itu tidak dilakukan dan justru merugikan pengguna jasa? Jika ingin bertahan untuk jangka panjang, mau tidak mau perusahaan ini harus menambah SOP pemesanan taksi online. SOP pemesanan taksi online ini nanti akan berdampingan dengan SOP pemesanan Paksi via telepon. Dengan demikian, perusahaan ini teran membuka peluang untuk menambah pemasukan, meraup keuntungan lebih banyak, dan memenangkan persaingan. 3. Coba cermati mobil-mobil pribadi yang berseliweran di jalan raya. Hampir semua kacanya tertutup. Sebagian besar mobil pribadi menggunakan AC. Usia mobil-mobil tersebut juga masih muda, karena mudahnya mendapat fasilitas leasing. Jika Anda memiliki perusahaan transportasi (bus/travel) dan masih mengoperasikan kendaraan tua tanpa pendingin udara. apa yang terjadi? Anda tidak akan mendapatkan konsumen. Konsumen lebih memilih naik mobil pribadinya atau sewa mobil yang lebih nyaman.
Satu-satunya cara untuk mendapatkan konsumen adalah mengoperasikan kendaraan-kendaraan baru yang berpendingin udara. Jika SOP di perusahaan Anda masih mengatur soal rekondisi kendaraan, segera ganti SOP itu dengan peremajaan kendaraan setiap periode waktu tertentu (misalnya tiga tahun sekali). Penumpang sekarang sudah cerdas, bisa membedakan mana kendaraan hasil rekondisi dan mana kendaraan baru. Kendaraan rekondisi itu adalah kendaraan lama yang diperbaiki bodi dan interiornya saja, sehingga seolah-olah namnak haru Padahal dinsibirisk maman Berbeda dengan kendaraan baru yang memang semuanya serba baru. Perbaiki cara mengelola keuangan, agar Anda dapat meremajakan kendaraan setiap tiga tahun sekali.
Saya yakin Anda pernah mengalami ketiga contoh diatas. Sengaja saya ambil contoh yang memudahkan pemahaman Anda. Pertanyaannya sekarang, SOP Anda masih statis atau sudah dinamis?
Baca juga SOP Statis – Bag. 1
Sumber MATINYA PERUSAHAAN GARA GARA S.O.P Suryono Ekotama,2018




