2.Kebutuhan Konsumen Berubah Tahukah Anda, apa efek pertumbuhan ekonomi Indonesia terhadap perusahaan Anda? Pertumbuhan ekonomi menyebabkan bertambahnya golongan menengah. Golongan menengah ini biasanya berprofesi sebagai karyawan. Mereka memiliki keterbatasan waktu untuk berbelanja. Mereka tidak bisa berlama-lama menghabiskan waktu untuk berbelanja karena mereka juga bekerja. Bahkan banyak yang bekerja di dua atau tiga tempat dalam seharinya. Anda bisa bayangkan betapa sedikitnya waktu yang mereka miliki untuk memberikan uangnya kepada Anda.
Jika toko Anda masih menggunakan sistem transaksi manual, maka proses transaksi itu membutuhkan waktu lama. Waktu yang tidak dimiliki oleh konsumen Anda. Itulah sebabnya konsumen Anda berbondong-bondong pindah bertransaksi di minimarket-minimarket yang menjamin kecepatan dan ketepatan transaksi. Hal itu menjadikan minimarket sering kali mencetak transaksi yang lebih banyak dibandingkan toko kelontong dalam seharinya. Orang awam melihat bahwa minimarket terlalu “serakah” menyedot konsumen, sehingga merugikan pedagang tradisional atau toko kelontong. Padahal minimarket itu memiliki keunggulan kompetitif, yakni mengetahui apa sebenarnya “kebutuhan dasar” konsumen dan mereka berusaha memenuhinya.
Ini bukan soal penampilan minimarket yang lebih bersih atau mewah, tetapi karena kecepatan dan ketepatan sistem transaksinya. Coba cermati lagi, apa yang membedakan toko kelontong dan minimarket? Yang paling mencolok adalah sistem transaksinya. Minimarket sudah menggunakan sistem teknologi informasi, karyawan yang terlatih, kecepatan dan ketepatan proses transaksi, sehingga konsumen merasa dimudahkan. Itu keunggulan kompetitifnya.
Jadi, ingatlah selalu kebutuhan konsumen. Konsumen itu tidak hanya membutuhkan produk yang Anda jual. Produk yang Anda jual bisa dibeli di mana saja. Tapi yang membedakan adalah pelayanannya. Konsumen membutuhkan waktu lebih banyak untuk dirinya, dan hanya memiliki waktu yang sedikit untuk memberikan uangnya kepada Anda. Pahamilah hal ini, dan gunakan sebagai faktor pendorong untuk berubah. Jangan sampai gagal paham lagi ya.
- Lingkungan Berubah Sebelum tempat usaha Anda berdiri, lingkungan Anda sangat sepi. Setelah tempat usaha Anda berdiri, dalam waktu sekejap muncullah follower-follower yang mendirikan tempat usaha serupa. Makin lama makin banyak, makin sesak. Bahkan satu lajur jalan bisa dipenuhi tempat usaha yang sejenis. Konsumen diuntungkan karena banyak pilihan, tetapi Anda bisa gigit jari karena kehilangan konsumen yang memilih berbelanja ke toko sebelah.
Anda tetap bersikukuh sebagai pionir atau mengubah diri menjadi pemimpin pasar? Pionir sering kali nasibnya tragis karena gagal berubah. Ia dilibas para follower-nya yang lebih kreatif dan inovatif menciptakan produk.
Dalam kondisi dikepung para follower tersebut, Anda harus dapat mengubah organisasi bisnis perusahaan Anda menjadi kreatif dan inovatif. Hasilkan produk yang kekinian, selangkah lebih maju daripada follower. Begitu seterusnya sampai follower kehabisan nafas untuk mengejar kreativitas dan inovasi Anda. Pasti Anda berubah menjadi pemimpin pasar. Tidak lagi sebagai pionir yang bernasib tragis.
Ketiga contoh di atas adalah fakta. Perubahan eksternal memaksa kita untuk selalu berubah. Biasakanlah organisasi bisnis Anda untuk berubah mengikuti perkembangan zaman atau dinamika bisnis. Bukalah wawasan karyawan Anda. Dukung mereka menjadi pribadi yang kreatif dan inovatif untuk memajukan perusahaan. Ciptakan SOP yang mampu mendukung hal itu menjadi kenyataan.
Baca juga SOP Disusun Tanpa Mempertimbangkan Kemampuan Organisasi Bisnis untuk Berubah – Bag. 2
Baca juga SOP Disusun Tanpa Mempertimbangkan Kemampuan Organisasi Bisnis untuk Berubah – Bag. 1
Sumber MATINYA PERUSAHAAN GARA GARA S.O.P Suryono Ekotama,2018




