Sebelum menjadi penulis buku, saya mengira bahwa semua buku yang dijual di toko buku itu bermutu, isinya sudah melalui seleksi sedemikian rupa oleh penerbit, sehingga kualitasnya terjamin dan tidak merugikan pembeli. Belakangan, setelah saya menjadi penulis buku dan memahami seluk-beluk dunia penerbitan, saya mengelus dada. Ternyata perkiraan saya itu meleset.
Tahukah Anda bahwa buku-buku yang beredar di pasaran itu sebenarnya terdiri dari tiga jenis?
- Buku asli (orisinil)
- Buku jiplakan/plagiat
- Buku bajakan
Anda mungkin akan mengucapkan sumpah serapah ketika mengetahui bahwa uang puluhan atau ratusan ribu yang didaparkan dari hasil kerja memeras keringat itu ternyata hanya ditukar dengan buku jiplakan/plagiat atau buku bajakan. Tetapi Anda tidak dapat melampiaskan kekesalan itu, karena baru mengetahuinya setelah sampai di rumah dan membuka segel buku. Toko buku hanya mau mengganti buku yang rusak (itu pun dengan syarat Anda harus dapat menunjukkan struk pembeliannya). Toko buku tidak dapat membatalkan transaksi jika isi buku tersebut ternyata bajakan atau jiplakan. Jadilah Anda menggerutu sejadi-jadinya.
Saya bisa mengungkapkan hal ini karena pernah mengalaminya. Saya membeli buku yang judulnya sesuai dengan kebutuhan saya. Desain cover-nya pun sangat menarik. Saya mengabaikan nama penulis buku itu yang sepertinya tidak pernah saya jumpai di internet. Buku yang masih tersegel itu saya beli dengan harga puluhan ribu dan baru saya buka segelnya dirumah. Masya Allah, ternyata isinya hanya cuplikan dari buku-buku lain. Itu pun tidak nyambung, karena asal cuplik dan digabung-gabungkan saja. Terkesan dipaksakan sekali. Ada satu bab dari judul buku lain yang dicuplik kerangkanya, kemudian isinya dimodifikasi sendiri dengan bahasa yang agak lain. Mungkin untuk menyamarkan jika itu adalah isi jiplakan. Sumpah serapah saya tujukan kepada penulis dan penerbitnya. Bayangkan, saya sudah membuang uang puluhan ribu rupiah tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari buku itu.
Ketika saya diskusikan hal itu dengan kenalan pemilik pener bitan dan editor, mereka malah tertawa. Katanya, saya kena jebakan batman Penerbit penerbit yang tidak memiliki etika, biasanya pandai membuat judul dan desain cover yang menarik. Tetapi mereka mengabaikan isi, karena tidak memiliki sumber daya manusia yang memadai (yang berkompeten di bidangnya) yang dapat menjamin kualitas isi buku. Prinsipnya, asal bisa menerbitkan dan menjual buku sudah bagus, supaya bisa makan. Kata pepatah yang mengatakan “don’t jugde book by the cover memang betul. meskipun saya mengartikannya secara harafiah. Kali ini saya betul betul tertipu dengan cover dan judul yang menarik, tetapi isinya sampah. Sejak saat itu, setiap membeli buku, saya selalu melakukan empat hal ini:
- Melihat cover-nya. Bagaimanapun juga, cover yang eye catching lebih mudah tertangkap mata diantara ribuan buku yang dipajang di toko buku. Tapi sekarang saya tidak akan tertipu dengan cover sebagus atau seburuk apapun. Banyak cover yang buruk, tidak eye catching, tetapi kualitas isinya betul-betul bagus (orisinil).
- Membaca judulnya, dan kemudian memeriksa daftar isi atau sekilas isinya. Jika sesuai, baru saya beli. Jika judul dan daftar isi atau isinya tidak sesuai, saya lempar begitu saja di tumpukan buku yang dijual. Itulah buku sampah yang menjadi jebakan batman untuk kita.
- Meneliti nama penulisnya. Sering kali saya tidak jadi membeli buku yang judulnya bagus dan cover-nya menarik, jika nama penulisnya terkesan meragukan. Nama penulis yang meragukan itu terlihat dari susunan kata namanya yang seolah olah bukan nama asli (nama samaran), nama itu belum pernah menerbitkan buku atau pernah menerbitkan buku tetapi tidak konsisten temanya, dan nama itu belum pernah saya dapati di internet. Mosok buku bisnis praktis ditulis oleh seseorang yang menggunakan nama samaran? Apa yang disembunyikan? Membaca riwayat hidup penulisnya yang biasanya dicantumkan di bagian akhir buku tersebut. Latar belakang penulis harus sesuai dengan tema yang ditulisnya. Jika tidak ada riwayat hidup penulisnya, buku tersebut tidak jadi saya beli, meskipun buku itu menyertakan kesaksian (testimoni) dari orang-orang terkenal sekalipun. Ternyata kesaksian (testimoni) orang-orang terkenal itu hanya trik untuk mendongkrak penjualan buku. Padahal belum tentu orang-orang terkenal yang memberikan kesaksian itu pernah membaca bukunya atau menyetujui isinya. Saya mengetahui hal ini setelah saya sering dimintai tolong sesama penulis buku lain untuk menuliskan “kesaksian (restimoni) yang menjual”. Saya lebih sering menolak secara halus, karena menurut saya isi buku tersebut kosong. Saya tidak mungkin menyuruh orang lain membeli buku yang isinya kosong. Itulah sebabnya, di buku-buku saya tidak pernah menampilkan kesaksian (testimoni) dari orang-orang terkenal. Biarlah isi buku ini yang menjual dirinya sendiri.
Itulah pengalaman saya membeli buku jiplakan. Bagaimana dengan buku bajakan? Sebagai penulis buku orisinil (asli), saya selalu menyertakan alamat email, web, dan nomor handphone di setiap buku yang diterbitkan. Tujuannya untuk memberi kesempatan kepada pembaca bertukar pikiran tentang isi buku itu. Sering kali saya menerima ide baru, masukan, atau saran dan nasihat dari pembaca untuk memperbaiki kualitas isi buku. Tetapi. saya juga sering kali menerima komplain dari pembaca buku yang mengeluhkan mengapa isi bukunya tidak lengkap, ada halaman hilang, terbolak-balik, dan kualitas cetaknya buruk sehingga tidak bisa dibaca dengan jelas? Saya pun mengonfirmasi ke penerbit. Penerbit mengatakan, itulah buku bajakan. Dari luar terlihat sama persis seperti buku aslinya, tetapi dalamnya bisa sangat buruk kualitas fisiknya.
Jika sudah demikian, apa yang bisa saya lakukan untuk pembaca buku saya? Mengganti uangnya jelas tidak mungkin. Satu-satunya jalan adalah menjelaskan bahwa itu buku bajakan dan saya pun dirugikan. Saya dan pembaca sama-sama rugi. Kami mengharapkan tindakan dari aparat, tapi apa mau dikata? Aparat masih sibuk dengan urusan korupsi dan narkoba. Semoga hadirnya buku ini bisa memberi wawasan lebih kepada calon pembaca untuk mengenali buku asli (orisinil) dan turut meminimalisir kerugian tersebut.
Baca juga SOP Disusun Menggunakan Pedoman yang Salah Kaprah – Bag. 4
Baca juga SOP Disusun Menggunakan Pedoman yang Salah Kaprah – Bag. 3
Baca juga SOP Disusun Menggunakan Pedoman yang Salah Kaprah – Bag. 2
Sumber: MATINYA PERUSAHAAN GARA GARA S.O.P Suryono Ekotama,2018




