Setelah membaca uraian di atas, Anda mungkin akan mengutuk penulis buku yang menjiplak buku orang lain dan secara langsung menurunkan kualitas isi buku itu. Anda merasa dirugikan karena telah mengeluarkan uang sia-sia untuk membeli buku jiplakan yang kualitasnya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Pertanyaannya, mengapa bisa muncul buku pedoman menyusun SOP jiplakan? Benarkah semua kesalahan penulisnya? Atau ada keteledoran dan kesengajaan? Anda harus mengetahuinya, supaya objektif menilai hal ini dan tidak dirugikan untuk kesekian kalinya:
1.penulis yang Hobi Menulis
Semua orang juga paham bahwa untuk menulis buku itu dibutuhkan keterampilan menulis. Tapi keterampilan menulis itu tidak hanya sekadar hobi menulis. Keterampilan menulis buku itu harus diarahkan pada kualitas isi buku yang berguna untuk masyarakat. Jadi, fokusnya adalah manfaat isi buku untuk pembaca.
Penulis yang hobi menulis, cara pandangnya beda. Ia menulis untuk menyalurkan hobinya. Apalagi jika sudah terkena virus motivator, bahwa “hobi harus menghasilkan. Mereka bisa menulis apa saja, yang penting bisa menghasilkan uang. Jadi, hobi tersalurkan, dapat duit pula. Anda bisa bayangkan, apa jadinya buku pedoman menyusun SOP yang ditulis dengan tujuan seperti ini? Menguntungkan atau merugikan pembaca? Yang jelas, saya sudah pernah terkecoh membeli buku jip lakan. Saya sebagai pembeli/pembaca buku dirugikan Yang diuntungkan adalah penerbitnya yang bukunya laku terjual dan penulisnya yang mendapatkan royalti dari hasil penjualan. buku itu. Penulis seperti ini cenderung tidak memiliki kom petensi untuk menulis buku pedoman menyusun SOP Ke terampilannya adalah mengumpulkan buku pedoman menyusun SOP sebanyak-banyaknya, cuplik sana-sini, kemu dian cuplikan itu digabungkan di dalam bukunya.
Bagaimana cara mengenali penulis seperti ini? Sekali lagi, tengoklah riwayat hidup penulisnya. Lihat apa saja kegiatannya. Sudah sesuaikah dengan tema buku yang ditulisnya? Semoga Anda tidak terkecoh lagi.
2.Penulis yang Butuh Duit Cepat
Urusan perut memang bisa menjadikan gelap mata. Penulis buku yang lapar dan hanya fokus untuk kepentingan dirinya (bukan kepentingan pembaca buku), dapat menulis buku apa saja untuk menghasilkan uang cepat. Penulis seperti ini biasanya tidak memiliki pekerjaan (selain menulis itu). Cara yang dilakukannya untuk menyusun buku pedoman penyusunan SOP jiplakan juga gampang:
- Pertama-tama dia akan melakukan survei, buku apa yang sedang booming di pasaran. Setelah mendapatkan informasinya, ia segera mengumpulkan data yang sejenis dengan isi buku yang sedang booming tersebut.
- Data itu (tanpa mempertimbangkan etika dan tata cara penyaduran atau pengutipan), dicuplik mentah-mentah, disusun serapi mungkin menjadi sebuah buku dalam waktu sekejap (sering kali hanya membutuhkan waktu seminggu).
- Setelah buku jadi, ia segera mendatangi penerbit dan menjual putus buku tersebut. Uang didapat, ia lepas tanggung jawab. Penerbit dengan sukacita membeli putus buku tersebut karena tema tersebut sedang booming. dan menurut hitung-hitungan bisnisnya, penerbit akan kecipratan rezekinya jika turut serta menerbitkan buku dengan tema itu. Beli putus adalah penerbit membeli hak cipta buku dari penulisnya. Satu judul buku bisa dihargai antara satu hingga lima juta rupiah. Anda bisa bayangkan isi bukunya jika penulis melakukan hal ini?
Bedanya dengan penulis yang hobi menulis adalah soal beli purus dan royalti. Penulis yang butuh duit cepat akan menulis buku secepat kilat untuk ditukar dengan uang cash di muka, bahkan sebelum bukunya dicetak dan diterbitkan. Sedangkan penulis yang hobi menulis. rata-rata menggunakan sistem royalti. Royalti dibayarkan setelah bukunya laku terjual.
3.Penerbit yang Memanfaatkan Momentum
Banyak orang mengatakan “bisnis itu kejam”. Memang begitu kenyataannya. Hukum rimba berlaku disini. Penerbit yang menerbitkan buku-buku laris, dapat mempertahankan bisnisnya. Sedangkan penerbit yang bukunya tidak laku, akan kolaps dengan sendirinya. Itulah penyebab banyak penerbit yang tidak memiliki sumber daya manusia untuk melahirkan buku bermutu dan laris manis di pasaran, menggunakan trik-trik instan untuk mendulang keuntungan. Caranya juga sederhana saja:
- Penerbit ini akan memonitor buku-buku yang laris di pasaran.
- Penerbit itu akan menugaskan seseorang untuk menulis buku sejenis yang laris di pasaran, bisa karyawannya sendiri atau penulis lepas. Tujuannya, supaya ikut kecipratan rezekinya. Isi tidak penting. Yang penting adalah judul. desain cover, dan harga yang lebih murah daripada buku aslı (orisinil). Itu sebabnya banyak buku laris yang kemudian memunculkan buku-buku follower-nya. Cover dibuar se eye catching mungkin untuk menarik minat beli calon pembaca. Judul dibuat seminip mungkin dengan buku aslinya. Penulis buku hanya diberi waktu dalam hitungan hari atau minggu untuk menyelesaikan penulisan buku tersebut. Penulis menulis buku itu dengan cara menyadur atau menjiplak isi buku lain, kemudian menatanya serapi mungkin dalam bukunya. Dalam waktu singkat, buku ini terbit. Oleh karena temanya sedang tren dan dijual dengan harga lebih murah, pembeli memilih untuk membeli buku ini. Tentu saja penerbit buku ini yang kegirangan. Anda sebagai pembeli. bisa menggerutu sesampainya di rumah setelah membuka segel buku tersebut. Jadi, banyak alasan di belakang terbitnya buku SOP jiplakan itu. Jika selama ini Anda belum memahaminya, semoga setelah membaca buku ini Anda mengetahuinya. Saya bisa menuliskan hal itu karena sejak buku-buku saya laris manis di pasaran, saya sering kali mengalami hal-hal berikut ini:
- Buku-buku saya dijiplak. Otomatis ini merugikan saya secara intelektual dan merugikan penerbit secara bisnis,
- Saya ditawari penerbit untuk menulis buku-buku secara cepat (instan) demi mengejar momentum, tetapi tanpa mempertimbangkan isi. Tawaran ini saya tolak karena saya termasuk penulis analitis, bukan penulis oportunis atau penulis bombastis.
- Saya ditawari sistem beli putus untuk menulis buku-buku bisnis yang sedang menjadi tren di pasaran. Tawaran ini juga saya tolak, karena saya tahu betul kemampuan saya untuk melahirkan isi buku yang bermutu dan menghasilkan royalti dalam jangka panjang. Seluruh buku yang saya tulis, saya desain sebagai buku evergreen (laku sepanjang masa).
Baca juga SOP Disusun Menggunakan Pedoman yang Salah Kaprah – Bag. 4
Baca juga SOP Disusun Menggunakan Pedoman yang Salah Kaprah – Bag. 2
Baca juga SOP Disusun Menggunakan Pedoman yang Salah Kaprah – Bag. 1
Sumber MATINYA PERUSAHAAN GARA GARA S.O.P Suryono Ekotama,2018




