Saat ini, ada tiga model sistem pengukuran kinerja terintegrasi yang sangat populer dan digunakan secara luas di dunia industri atau perusahaan, yaitu: Balanced Scorecard dari Harvard Business School, Integrated Performance Measurement System (IPMS) dari Centre for Strategic Manufacturing University of Strathclyde, dan Performance Prism dari kolaborasi antara Accenure dengan Cranfield School of Management (Cambridge University) (Neely & Adams, 2000).
Balanced Scorecard dikembangkan pada 1993 oleh Prof. Robert Kaplan dan David Norton, dari Harvard Businesss School dan hingga kini masih terus diperbaiki. Kaplan & Norton mengemukakan, Balanced scorecard adalah suatu kerangka kerja untuk mengintegrasikan berbagai ukuran yang diturunkan dari strategi perusahaan, yaitu ukuran kinerja finansial masa lalu dan memperkenalkan pendorong kinerja finansial masa depan, yang meliputi perspektif pelanggan, proses bisnis internal, dan pembelajaran serta pertumbuhan, diturunkan dari proses penerjemahan strategi perusahaan yang dilaksanakan secara eksplisit dan ketat ke dalam berbagai tujuan dan ukuran yang nyata.
Walaupun demikian, Balanced Scorecard bukan merupakan sistem pengukuran semata. Berbagai perusahaan yang inovatif menggunakan Scorecard sebagai kerangka kerja proses manajemen perusahaan. Pearson and Robinson mendefinisikan Balanced Scorecard sebagai satu kumpulan dari empat ukuran yang berkaitan langsung dengan strategi suatu perusahaan: kinerja keuangan, pengetahuan mengenal pelanggan, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan.
Balanced Scorecard (Kartu Skor Berimbang) merupakan sekelompok ukuran yang berkaitan langsung dengan strategi suatu perusal Balance Scorecard mengarahkan suatu perusahaan untuk mengaitkan strategi jangka panjangnya dengan sasaran dan tindakan yang nyata. Balanced Scorecard, mengandung definisi yang tepat mengenai visi dan strategi perusahaan. Visi dan strategi tersebut dikelilingi oleh empat kotak tambahan.
A.Mengapa Balanced Scorecard Dibutuhkan?
Ada prinsip yang menyatakan: “If you can’t measure it, you can’t manage it.” Sistem pengukuran yang diterapkan perusahaan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku manusia di dalam maupun di luar organisasi. Untuk berhasil dan tumbuh dalam persaingan abad informasi, perusahaan harus menggunakan sistem pengukuran dan manajemen yang diturunkan dari strategi dan kapabilitas yang dimiliki perusahaan.
Sayangnya, banyak perusahaan yang mencanangkan strategi tentang hubungan dengan pelanggan, kompetensi utama, dan kapabilitas perusahaan ketika proses memotivasi dan mengukur kinerja masih dilaksanakan dengan menggunakan berbagai ukuran finansial. Tekanan pengukuran kinerja pada ukuran finansial, yang merupakan “language of business ternyata tidak cukup.
Oleh karena itu, diperlukan pengukuran kinerja terpadu, yaitu ukuran keuangan dan non-keuangan. Pengukuran kinerja terpadu adalah pengukuran keuangan yang dipadukan dengan pelanggan, proses internal, para pekerja, dan sebagainya. Salah satu bentuk pengukuran kinerja terpadu adalah Balanced. Scorecard.
Balanced Scorecard tetap mempertahankan ukuran finansial sebagai suatu ringkasan penting kinerja material dan bisnis, hanya ditambah dengan seperangkat ukuran yang lebih luas dan terpadu, yang mengaitkan pelanggan perusahaan saat ini, proses internal, kinerja pekerja dan sistem dengan keberhasilan finansial jangka panjang.
Balanced Scorecard melengkapi seperangkat ukuran finansial kinerja masa latu dengan ukuran pendorong (drivers) kinerja masa depan. Tujuan dan ukuran scorecard diturunkan dari visi dan strategi. Tujuan ukuran memandang kinerja perusahaan dari empat perspektif: finansial, pelanggan, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan. Empat perspektif ini memberi kerangka kerja bagi Balanced Scorecard.
B.BSC sebagai Sistem Pengukuran Kinerja
Di dalam peta strategi, terdapat dua indikator yang berfungsi sebagai sistem pengukur, yaitu lag dan lead indicator. Lag indicator adalah indikator yang digunakan untuk mengukur hasil dari aktivitas yang telah dikerjakan. Contoh indikator ini adalah keuangan atau finansial Lead indicator adalah indikator yang digunakan untuk mengukur proses yang akan memengaruhi keadaan finansial di masa depan. Contoh lead indicator antara lain presensi pegawai.
BSC menurut Kaplan & Norton secara umum terdiri dari empat perspektif, yaitu keuangan (Financial), pelanggan (Customer), proses bisnis internal (Internal Processes), dan pembelajaran dan pertumbuhan (Learning and Growth).
1.Perspektif keuangan
Keuangan merupakan sebagai fokus bagi tujuan tujuan strategis dan ukuran ukuran semua perspektif dalam BSC. Setiap ukuran yang dipilih seyogianya menjadi bagian dari suatu keterkaitan berdasarkan hubungan sebab akibat yang memuncak pada peningkatan kinerja keuangan.
Keuangan merupakan komponen yang sangat penting dalam penyusunan BSC. Pada sektor publik, perspektif ini memastikan bahwa hasil maksimal didapatkan dengan cara yang sangat efisien.
2.Perspektif pelanggan
Suatu organisasi harus mengidentifikasi pelanggan yang dilayani agar pelayanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan dan harapan pelanggan. Kekuatan kompetitif organisasi harus diidentifikasi terlebih dahulu agar dapat diketahui secara tepat. Hal tersebut berguna untuk lebih memaksimalkan pelayanan yang diberikan.
Terdapat tiga kategori dalam perspektif pelanggan menurut Treacy dan Wieserma, yaitu operational excellence, product leadership, dan customer intimacy. Operational excellence fokus pada harga yang kompetitif, product leadership fokus pada inovasi dan penawaran produk yang terbaik untuk pasar, serta customer intimacy fokus pada penyediaan solusi untuk pelanggan yang membutuhkan.
3.Perspektif proses bisnis internal
Pada perspektif ini dijabarkan proses-proses kunci yang menjadi andalan organisasi untuk terus memberikan nilai tambah kepada pelanggannya. Ukuran atas sasaran yang ada pada perspektif ini harus akurat dalam mengukur kemajuan organisasi dalam melaksanakan perbaikan proses kerja.
4.Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan
Perspektif ini merupakan dasar dalam BSC Pada saat sasaran dalam perspektif pelanggan diidentifikasi, maka kekurangan antara infrastruktur dalam organisasi dan kebutuhan infrastruktur yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan akan terlihat. Infrastruktur dalam organisasi tersebut meliputi keahlian karyawan, sistem infromasi, dan kondisi organisasi.
Baca Juga Blanced Score Card & KPI – Bag. 2
Baca Juga Blanced Score Card & KPI – Bag. 3
Baca Juga Blanced Score Card & KPI – Bag. 4
Baca Juga Blanced Score Card & KPI – Bag. 5
Baca Juga Blanced Score Card & KPI – Bag. 6
Baca Juga Blanced Score Card & KPI – Bag. 7
Baca Juga Blanced Score Card & KPI – Bag. 8
Baca Juga Blanced Score Card & KPI – Bag. 9
Sumber Panduan Lengkap Menyusun SOP & KPI Fajar Nur'aini D.F, M.psi,2020




