Ada beberapa pihak yang menyusun SOP sebelum perusahaannya beroperasi. Masing-masing memiliki tujuan tertentu. Berikut ini faktanya:
- Calon Pengusaha Pemula yang Tertipu Motivator
Coba cermati kata-kata “calon pengusaha pemula” disini. Artinya, mereka belum mendirikan perusahaannya sama sekali. Ada calon pengusaha pemula yang sangat getol mengikuti seminar-seminar motivasi. Kebetulan motivatornya tidak memiliki pengalaman bisnis praktis, tetapi memotivasi orang untuk menjadi pengusaha. Salah satu materi seminar motivasi yang salah kaprah adalah menciptakan sistem terlebih dulu untuk menjalankan sebuah usaha. Jadi, perusahaannya belum berdiri, calon pengusaha sudah harus keluar duit banyak untuk menciptakan sistem, termasuk SOP ini. Logika yang terbalik ya?
Calon pengusaha pemula yang menelan mentah-mentah apa kata motivatornya ini benar-benar menyusun SOP terlebih dahulu sebelum mendirikan perusahaannya. Logiskah sebuah SOP disusun sebelum perusahaan berdiri? Bukankah SOP itu adalah prosedur/alur/cara kerja yang distandarisasi? Belum ada pekerjaan yang dilakukan kok sudah dilakukan standarisasi? Apanya yang distandarisasi?
Jika Anda membuka situs www.ekotama.com dan membuka menu Konsultasi, disitu sering saya tegaskan, lakukan dulu pekerjaannya, baru menyusun sistem atau SOP Jualan dulu, baru bikin sistem! Kasihan calon pengusaha yang sesuai. pemula yang tertipu mentah-mentah oleh motivator yang tidak memiliki bisnis itu. Gagal paham ini hanya gara-gara ulah motivator yang tidak memiliki kompetensi bisnis.
2.Para Penjual Business Concept (BC)
Business Concept (BC) adalah sebuah konsep bisnis. Bentuknya semacam proposal bisnis yang dilengkapi dengan feasibility study (studi kelayakan). Bisnisnya sendiri belum ada. Baru ada konsep diatas kertas. Konsep bisnis biasanya dibuat olch orang-orang yang pandai berhitung dan berkhayal, tetapi bukan pebisnis. Seorang pengusaha tulen biasanya malah tidak paham konsep bisnis, karena mereka terbiasa langsung action, tidak perlu memakai konsep-konsepan. Jika mereka akan mengembangkan perusahaan, barulah merekrut atau menugaskan karyawan yang pandai menghitung bisnis ini untuk membuat konsep bisnis.
Kegunaan konsep bisnis adalah untuk meyakinkan investor atau mitra kerja, bahwa bisnis yang akan didirikan dan dioperasikan itu layak dan menguntungkan. Itulah sebabnya konsep bisnis ini banyak dipasarkan di pameran-pameran franchise, atau diiklankan melalui media massa. Konsep bisnis yang ditawarkan tersebur mayoritas usahanya belum ada, tetapi sering kali sudah dilengkapi dengan SOP Mengapa ada SOP disini? Tentu saja untuk memberikan kesan kepada investor atau mitra kerja bahwa bisnis yang akan dilakukan itu tertata rapi, serapi tulisan dalam SOP tersebut. Jadi fungsi SOP disini bukanlah untuk standarisasi prosedur/alur/cara kerja, tetapi untuk memberikan kesan bahwa bisnisnya layak untuk “dibeli”. Pergeseran fungsi yang luar biasa jauh dari fungsi aslinya. Namun, investor-investor yang gagal paham SOP justru percaya dengan SOP yang disusun sebelum perusahaannya beroperasi ini. Jadilah mereka tertipu. Sudah terlanjur menanamkan uang puluhan hingga ratusan juta rupiah, ternyata bisnisnya tidak menghasilkan sesuai harapan.
3.Konsultan SOP yang Tidak Berkompeten
Pada kata pengantar, sudah saya uraikan tentang munculnya para konsultan SOP dadakan yang tidak memiliki pengalaman bisnis praktis. Mereka memanfaatkan booming SOP untuk menciptakan uang secara cepat guna mencukupi kebutuhan perutnya. Konsultan SOP yang tidak berkompeten bisa menerima order dari calon pengusaha untuk menyusunkan SOP perusahaannya yang belum berdiri itu. Ia akan mencuplik SOP sana sini (dari SOP bajakan atau copy paste dari perusahaan lain), disesuaikan dengan perusahaan yang akan didirikan itu. Anda bisa bayangkan apa jadinya SOP itu jika diterapkan? Saya bisa menyampaikan hal ini karena saya pernah menerima beberapa order pembuatan SOP yang perusahaannya belum berdiri. Saya menolak. Apa yang mau distandarisasi kalau pekerjaannya saja belum dilakukan?
Pengusaha pemula yang saya maksud disini adalah:
- Anak-anak muda yang baru pertama kali memulai bisnisnya
- Para karyawan yang ingin mengubah status menjadi juragan
Mereka ini rentan sekali gagal paham SOP Anak-anak muda yang baru pertama kali memulai bisnis biasanya memiliki semangat menyala-nyala. Mereka ingin melakukan segalanya secara cepat. Termasuk mengembangkan perusahaan yang baru seumur jagung. Sedangkan para karyawan yang ingin mengubah status menjadi juragan, biasanya terjebak dengan pola pikir karyawan. Jika pola pikir karyawan itu, persiapkan dulu secara matang sebelum beraksi, pola pikir pengusaha justru sebaliknya, yakni beraksi dulu, baru mengurus kekurangannya. Jika Anda ingin menjadi pengusaha yang dapat mengembangkan perusahaan menggunakan SOP, lakukanlah tahapan berikut ini:
- Buka bisnisnya, jual produk sebanyak-banyaknya. Dari hasil penjualan produk inilah Anda bisa hidup. Jangan pikirkan hal yang lain dulu. Pikirkan pemasukan sebanyak-banyaknya terlebih dahulu. Fokuskan tindakan pada penjualan.
- Setelah menjual produk sebanyak-banyaknya, hal yang harus dilakukan adalah mengelola keuangan. Anda akan membutuhkan sistem akuntansi dan keuangan, meskipun yang paling sederhana sekalipun. Jangan lakukan pembukuan secara manual. Sekarang zaman computerized, Bung. Bikinlah program akuntansi dan keuangan yang sesuai dengan kemampuan dan bidang usaha perusahaan Anda.
- Setelah penjualan dan keuangan stabil, pikirkan cara mengatur karyawan Anda. Yang Anda lakukan bukan menyusun SOP, tetapi pastikan visi, misi, struktur organisasi, deskripsi pekerjaan karyawan, corporate value, corporate culture, peraturan perusahaan, sudah Anda terapkan. Pastikan karyawan Anda sudah bekerja di jalur yang tepat untuk menuju ke tujuan perusahaan Anda.
- Baca juga SOP Disusun Tanpa standar Hasil Kerja – Bab. 2Baca juga SOP Disusun Tanpa standar Hasil Kerja – Bag. 2
Sumber MATINYA PERUSAHAAN GARA GARA S.O.P Suryono Ekotama,2018




