- Security merasa bertanggung jawab terhadap keamanan, ketertiban tetapi juga keselamatan kantor seisinya. Untuk apa keamanan dan ketertiban berhasil dijaga jika jatuh korban? Saya pernah menyusunkan SOP dengan prinsip safety first untuk security bank. Didalam SOP tersebut saya sebutkan target security adalah keselamatan. Jika dirampok, kasih saja uangnya, tetapi kenali dengan baik ciri-ciri perampoknya. Bagi saya, lebih penting mengenali ciri-ciri perampoknya itu daripada mati-matian berkelahi melawan perampok yang tidak imbang dan berisiko terluka atau meninggal dunia. Jika security mengenali dengan baik ciri-ciri perampoknya, dapat membantu pihak yang berwajib meringkus para perampok itu. Tapi jika security modal otot saja, berkelahi, kemudian meninggal, siapa yang dapat mengenali ciri-ciri perampok dan membantu aparat meringkusnya? Uang yang dirampok juga tidak sebanding dengan nyawa security. Ketika saya sosialisasikan SOP tersebut, semua security terlihat gembira. Yang dikhawatirkan saat itu adalah security kemudian bekerja seenaknya. Yang terjadi justru sebaliknya. Security bekerja semakin bagus (terlihat di monitor CCTV, tidak pernah duduk ketika berjaga, menyapa konsumen dan tamu dengan sopan, menertibkan parkir, memeriksa ruangan-ruangan secara berkala meskipun sudah ada CCTV). Hasilnya, kantor perusahaan itu tetap aman sentosa. Tidak pernah terjadi keributan, apalagi perampokan.
Jadi, supaya SOP itu produktif dan menguntungkan, Anda harus menetapkan standar hasil kerja untuk setiap jenis pekerjaan di SOP tersebut. Penyusun SOP tidak bisa sembarangan menetapkan standar hasil kerja ini. Standar hasil kerja itu bukan karangan. Harus didiskusikan dengan pimpinan atau pemilik perusahaan, tujuan akhir yang diinginkan dari setiap proses kerja itu seperti apa. Terkadang yang ada di kepala penyusun SOP sebagai gambaran ideal, belum tentu disetujui oleh pimpinan atau pemilik perusahaan. Gambaran ideal itu sering kali bertolak belakang dengan realitasnya. Itulah sebabnya standar hasil kerja ini merupakan kesepakatan bersama antara penyusun SOP dengan pemilik atau pimpinan perusahaan.
Tujuan perusahaan tidak akan tercapai. Tetapi celakanya, perusahaan juga tidak bisa memberikan sanksi kepada karyawan, karena karyawan sudah menjalankan SOP-nya. Sampai disini, giliran pemilik dan pimpinan perusahaan yang pusing tujuh keliling. Jika mereka tidak menemukan pangkal masalahnya, perusahaan itu makin ketinggalan dibandingkan kompetitor. Jika mereka dapat menemukan pangkal masalahnya, yakni di SOP-nya yang tidak mencantumkan standar hasil kerja itu, may tidak mau mereka harus merevisi SOP-nya. Terkadang revisi saja tidak cukup, harus mengubah atau membuat SOP baru. Tentu hal ini membuang waktu, tenaga, dan biaya.
Ada dua kemungkinan:
- Jika SOP itu Tidak Menetapkan Standar Hasil Kerja Jika Anda membeli SOP bajakan atau copy paste dari perusahaan lain yang tidak menetapkan standar hasil kerja, berarti Anda benar-benar tertipu. Anda tidak memahami SOP secara utuh dan dimanfaatkan oleh pedagang SOP untuk melariskan produk jualannya belaka. Anda rugi sejadi-jadinya.
2.Jika SOP itu Menetapkan Standar Hasil Kerja
Masalahnya, standar hasil kerja yang diterapkan SOP bajakan itu untuk mencapai tujuan, visi, dan misi perusahaan yang mana? Apakah standar hasil kerja di SOP bajakan tersebut ditujukan untuk mencapai tujuan, visi, dan misi perusahaan Anda? Pasti tidak. Standar hasil kerja yang disebutkan dalam SOP bajakan itu pasti ditujukan untuk mencapai tujuan perusahaan pemilik asli SOP-nya. Tentu saja standar hasil kerja tersebut tidak dapat diterapkan di perusahaan Anda yang memiliki tujuan, visi, dan misi yang berbeda.
SOP yang paling tepat diterapkan di perusahaan Anda adalah SOP disusun dengan standar hasil kerja yang dapat menunjang pencapaian tujuan, visi dan misi perusahaan Anda. Latihlah karyawan untuk memahami standar hasil kerja itu. Standar hasil kerja adalah tujuan akhir penerapan SOP bagi karyawan. Karyawan yang tidak mencapai standar hasil kerja, harus dilatih ulang sampai bisa menghasilkan standar hasil kerja tersebut. Jika dilatih berkali kali tetap tidak menunjukkan peningkatan, berarti masalahnya terletak didalam diri karyawan itu sendiri. Karyawan itu tidak memiliki kapabilitas yang cukup untuk bekerja menggunakan SOP di perusahaan Anda. Solusinya adalah diganti dengan karyawan lainyang memiliki kapabilitas cukup.
Baca juga SOP Disusun Tanpa standar Hasil Kerja – Bab. 2
Baca juga SOP Disusun Tanpa standar Hasil Kerja – Bab. 1
Baca juga SOP Disusun Tanpa standar Hasil Kerja – Bag. 1
Sumber MATINYA PERUSAHAAN GARA GARA S.O.P Suryono Ekotama,2018




