Sebelum globalisasi keuangan terjadi, pemupukkan cadangan devisa mengatur permintaan dan penawaran valas sebagai akibat transaksi current account. Banyak negara memupuk international reserves sebagai penyangga (buffer stock) mengantisipasi ketidakseimbangan BOP internasional. Pembuat kebijakan termasuk bank sentral mengadopsi rule tradisional yaitu suatu negara mempertahankan cadangan devisa nilainya sama dengan tiga bulan impor. Sebagai konsekuensi liberalisasi keuangan, banyak negara mengakumulasi cadangan devisa. Pencegahan (precautionary cushion) terhadap gangguan mendadak dan volatilitas keuangan (financial volatility) bahkan mencegah terjadinya krisis keuangan. Memprediksi krisis lebih mengutamakan rasio utang jangka pendek terhadap cadangan devisa. Pemupukan devisa diperlukan sebagai self insurance, mengurangi pinjaman jangka pendek berpotensi pembalikan modal (capital reversal) dan meningkatkan likuiditas aset luar negeri sehingga lebih siaga terhadap krisis.
Acuan pengukuran cadangan devisa yakni: 1) Cadangan devisa terhadap impor (reserves to imports) pengukuran berbasis impor bagi negara berpenghasilan rendah tanpa akses berarti pasar modal dan rentan gangguan di current account. Rasio menggambarkan jumlah bulan suatu negara membiayai impornya apabila arus modal lain terhenti setara tiga bulan impor. 2) Cadangan devisa terhadap pinjaman eksternal (reserves to short-term external debt) mengindikasikan bahwa negara prudent apabila memiliki cadangan devisa sejumlah total utang luar negerinya yangjatuh tempo dalam satu tahun. 3) Cadangan devisa terhadap M2 (reserves to M2) memperoleh buffer tepat maka cadangan devisa ekuivalen dengan 5-20 persen M2, tergantung sistem nilai tukar berlaku. Penetapan sistem devisa ditujukan mengatur pergerakan lalu lintas devisa antar negara. Umumnya ada tiga sistem devisa yaitu devisa terkontrol yakni perolehan devisa oleh masyarakat harus mendapat ijin negara, devisa semi terkontrol yakni penggunaan devisa tertentu harus memiliki ijin negara dan devisa bebas wajib melaporkan penggunaan devisa. Sistem devisa dianut bergantung seberapa jauh negara mengintegrasikan perekonomiannya terhadap perekonomian global.
Berikutnya mengenai inflasi yaitu fenomena ekonomi yang tak pernah asing dalam sejarah panjang ekonomi. Inflasi menjadi pembahasan yang kursial karena mempunyai dampak yang amat luas dalam perekonomian makro. Inflasi yang tinggi akan menyebabkan memburuknya distribusi pendapatan, menambah angka kemiskinan, mengurangi tabungan domestik menyebabkan defisit neraca perdagangan, menggelembungkan besaran utang luar negeri serta menimbulkan ketidakstabilan politik. Mengingat begitu kursialnya inflasi ini, Bank Sentral dalam tugasnya menjaga stabilitas ekonomi menetapkannya sebagai tujuan utama dalam pelaksanaan kebijakan moneternya. Dalam melaksanakan tugasnya, Bank Indonesia telah menyusun berbagai kerangka kebijakan moneter yang menjadi pedoman dalam langkah stabilisasi ini.
Dalam teori ekonomi cukup banyak definisi mengenai inflasi. Definisi inflasi seperti yang dikemukakan oleh Samuelson (2002). yang menyatakan “Inflation occurs when the general level of prices is rising”, atau dengan kata lain inflasi terjadi ketika tingkat harga-harga secara umum meningkat. Pengertian inflasi adalah proses kenaikan harga-harga umum barang-barang secara terus menerus. Ini tidak berarti bahwa harga-harga berbagai macam barang itu naik dengan persentase yang sama. Mungkin saja kenaikan tersebut tidak terjadi secara bersamaan. Yang penting terdapat kenaikan harga umum barang secara terus-menerus selama suatu periode tertentu. Untuk mengukur tingkat inflasi menggunakan indeks harga. Beberapa indeks harga yang sering digunakan untuk mengukur inflasi yaitu indeks biaya hidup (consumer price index), indeks harga perdagangan besar (wholesale priceindex), dan GNP deflator.
Perhitungan indeks biaya hidup dengan menggunakan biaya atau pengeluaran untuk membeli sejumlah barang dan jasa yang dibeli oleh rumah tangga untuk keperluan hidup.Besarnya inflasi diperoleh dari besarnya persentase kenaikan indeks biaya hidup tersebut. Untuk mengukur laju kenaikan tingkat harga-harga umum atau inflasi, dapat digunakan rumus umum sebagai berikut:
Dimana:
Tingkat inflasi pada periode (atau tahun) HUt : Harga umum aktual pada periode tIt
HUt-1 : Harga umum aktual pada periode t-1.
Indeks perdagangan besar mengukur laju inflasi dengan menggunakan sejumlah barang pada tingkat pedagang besar. Dengan demikian di dalam perhitungannya termasuk harga bahan mentah, harga bahan baku dan harga barang jadi. Pengukuran inflasi dengan GNP deflator yaitu dengan perhitungan nilai barang dan jasa yang termasuk dalam perhitungan pendapatan nasional bersih (GNP). Rumus menghitung GNP deflator adalah:

Berdasarkan asalnya, inflasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu inflasi yang berasal dari dalam negeri dan inflasi yang berasal dari luar negeri. Inflasi berasal dari dalam negeri misalnya terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal. Sementara itu, inflasi dari luar negeri adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang.
Misalkan dalam model klasik pertumbuhan penduduk dan kemajuan teknologi tidak ada sehingga pertumbuhan stok uang naik secara konstan sebesar & pada periode [t], yaitu:
Aln(Mt)=0Â (1.1)
Netralitas uang dalam model klasik menyatakan bahwa tingkat harga [Pt] juga naik sebesar pertumbuhan stok uang [].
Penyelesaian model klasik akan menghasilkan tingkat bunga nominal [R], dimana tingkat bunga nominal merupakan fungsi dari output agregat ditambah Hingkat inflasi, yaitu:
Rt=2(yt)+at. (1.2)
Baca Juga MANAJEMEN KRISIS – Bag.1
Baca Juga MANAJEMEN KRISIS – Bag.2
Baca Juga MANAJEMEN KRISIS – Bag.3
Baca Juga MANAJEMEN KRISIS – Bag.4
Baca Juga MANAJEMEN KRISIS – Bag.5
Baca Juga MANAJEMEN KRISIS – Bag.7
Baca Juga MANAJEMEN KRISIS – Bag.8
Baca Juga MANAJEMEN KRISIS – Bag.9
Baca Juga MANAJEMEN KRISIS – Bag.10
Sumber Manajemen Sumber Daya Manusia Di Era Revolusi Industri 4.0 Dr Sitti Nurbaya S.pd,MM,2020




