MANAJEMEN KRISIS – Bag.9

Ruang SOP / Blog

5.Membuka semua saluran informasi, tetapi harus dikoordinasikan lewat juru bicara yang telah ditunjuk, agar tercipta satu sumber informasi yang terkendali mengenai tahapan krisis hingga penyelesaiannya.

6.Tindakan terakhir adalah mengawasi dan mengevaluasi masalah yang telah dicapai atau yang belum diselesaikan dalam upaya mengurangi dampak dan efek krisis. Sejauh mana kerugian yang diderita, baik perusahaan maupun masyarakat lainnya, yang terseret menjadi korban dari krisis secara langsung dan tidak langsung.

Bila ditabulasikan, dalam membuat strategi penanganan krisisnya menjadi seperti di bawah ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah sebuah perusahaan menghadapi dan melewai masa krisisnya, maka menjadi penting untuk menghadapi masa depannya agar lebih cerah dan tidak kembali mengulang kejatuhan/ krisis yang pernah menimpanya untuk keduakalinya. Untuk itu, sebuah perusahaan perlu merumuskan strategi antisipasi kembalinya krisis. Baik itu yang terstruktur atau yang bentuknya sangat sederhana sekali, bergantung pada sumber daya yang dimilikinya.

Suatu krisis tidak dapat dibiarkan karena krisis merupakan suatu kejadian yang mempunyai lingkup luas kemasyarakat. Krisis secara potensial dapat mengakibatkan kerusakan jangka panjang pada citra perusahaan, baik kehilangan kepercayaan dari publik dan konsumen maupun melemahnya moral kerja karyawan. Seperti dikatakan Rosady Ruslan suatu perusahaan atau perusahaan yang mengalami krisis, dapat menimbulkan resiko sebagai berikut:

1.Intensitas masalah menjadi meningkat.

2.Menjadi sorotan publik, baik melalui liputan media massa, informasi yang disebarkan melalui mulut ke mulut.

3.Mengganggu kelancaran kegiatan dan aktivitas sehari hari,perusahaan dan mengganggunama baik serta citra perusahaan.

4.Merusak sistem kerja, etos kerja, dan mengacaukan sendi-sendi perusahaan secara total yang mengakibatkan lumpuhnya kegiatan.

5.Membuat masyarakat ikut-ikutan panik.

6.Mengundang ikut campur tangan pemerintah, yang mau tidak mau harus turut mengatasi masalah yang timbul.

7 Dampak atau efek dari krisis tersebut tidak saja merugikan perusahaan yang bersangkutan, tetapi juga masyarakat tertentu atau lainnya ikut merasakan akibatnya.

8.Lingkup dampak akan dengan cepat meluas, disebabkan oleh kemajuan teknik di bidang komunikasi.

Penyebab timbulnya krisis, dibagi kedalam empat kategori berdasarkan penyebab krisis yang dikaitkan dengan tempat krisis. Pertama, yang terkategori dalam penyebab teknis dan ekonomis. Kedua, yang terkategori sebagai penyebab manusiawi, organisatoris dan sosial. Mereka juga mengategorikan penyebab krisis dilihat dari sudut tempat asal atau kejadian di dalam atau di luar perusahaan. Berdasarkan kategori ini mereka membuat empat sel untuk melihat tipologi krisis, seperti tergambarkan pada bagan berikut ini:

Dengan demikian, penyebab krisis dapat dikategorikan menjadi:

1.Karena kesalahan manusia (human error)

2.Karena kegagalan teknologi

3.Karena alasan sosial (kerusuhan, perang, sabotase, teroris)

4.Karena berkaitan dengan bencana alam

5.Karena ketidakbecusan manajemen

Sebuah krisis mungkin disebabkan hanya satu faktor, tetapi sangat sering terjadi krisis akibat kombinasi faktor-faktor di atas. Contohnya adalah kasus kecelakaan Bhopal di bulan Desember 1984.

40 ton gas beracun methyl isocyanate bocor dari tank penyimpan bawah tanah pada pabrik pestisida Union Carbide dan menewaskan 3000 orang serta ratusan ribu orang terkena radiasinya. Di sini, ada faktor kesalahan manusia karena membiarkan masuknya air ke dalam tank yang menyebabkan peledakan. Namun juga ada kegagalan teknologi akibat rancangan pabrik tersebut tidak memperhitungkan kemungkinan human error yang terjadi serta tidak berfungsinya mekanisme penyelamat. Faktor dominan penyebab ledakan tersebut adalah masalah manajerial berupa kurangnya prosedur penyelamatan serta kurangnya latihan operator. Secara sosial pun proyek ini kurang layak karena pemerintah India mengijinkan pabrik ini beroperasi di kawasan perkampungan yang padat.

Untuk itu peramalan terhadap krisis (forcasting) perlu dilakukan pada situasi pra-krisis. Hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi dan menganalisa peluang (opportunity) dan ancaman (threat) yang terjadi pada perusahaan/ perusahaan. Untuk memudahkannya manajemen dapat melakukan peramalan (forcasting) dengan memetakan krisis pada peta barometer krisis. Dalam peramalan krisis ini, manajemen akan menilai tahapan krisis yang dihadapi oleh perusahaannya sesuai anatominya seperti yang diungkap oleh Steven Fink:

gambar di atas dapat dijelaskan sebagai berikut

1. Tahap prodromal. Krisis yang terjadi pada tahap ini kadang diabaikan karena perusahaan (sepertinya) masih berjalan secara normal. Tahap ini disebut juga dengan warning stage karena sesungguhnya meskipun krisis belum meledak, namun krisis sudah muncul, yakni gejala-gejala yang harus segera diatasi. Tahap ini merupakan tahap yang menentukan. Apabila perusahaan mampu mengatasi gejala-gejala yang timbul, maka krisis tidak akan melebar dan memasuki fase-fase berikutnya. 46 Sayangnya, jarang adanya instansi yang menyadari krisis pada tahap prodromal tetapi ada pula yang menyadarinya hingga diketahui oleh pihak internal instansi kemudian berhasil ditangani. Tahap prodromal biasanya muncul dalam salah satu dari tiga bentuk ini:

a.Jelas sekali. Gejala-gejala awal terlihat jelas. Misalnya ketika karyawan datang ke manajemen untuk meminta kenaikan gaji, perbedaan pendapat di antara direksi, kerusakan alat di pabrik (internal); selebaran gelap di masyarakat (eksternal).

b.Samar-samar. Gejala yang muncul tampak samar-samar karena sulit menginterpretasikan dan menduga luasnya suatu kejadian. Misalnya deregulasi, munculnya pesaing baru, ucapan pembentuk opini kadang-kadang tidak langsung terasa dampaknya pada perusahaan, namun dapat menjadi masalah besar di kemudian hari.

Baca Juga MANAJEMEN KRISIS – Bag.1

Baca Juga MANAJEMEN KRISIS – Bag.2

Baca Juga MANAJEMEN KRISIS – Bag.3

Baca Juga MANAJEMEN KRISIS – Bag.4

Baca Juga MANAJEMEN KRISIS – Bag.5

Baca Juga MANAJEMEN KRISIS – Bag.6

Baca Juga MANAJEMEN KRISIS – Bag.7

Baca Juga MANAJEMEN KRISIS – Bag.8

Baca Juga MANAJEMEN KRISIS – Bag.10


Sumber
Manajemen Sumber Daya Manusia Di Era Revolusi Industri 4.0
Dr Sitti Nurbaya S.pd,MM,2020

KATEGORI SOP

RECENT POST

RUANG SOP

Merupakan jawaban untuk Anda dalam mengelola ataupun menyusun setiap proses dalam bidang usaha yang Anda miliki. Dengan adanya SOP, Anda akan lebih mudah menentukan ke-efektivan dan membuat Anda lebih BIJAK dalam menentukan setiap proses yang dibutuhkan.

LOCATION

Grand Pesona Pandanwangi Ruko Kav 2 Jl. Simpang L.A Sucipto Gang Makam Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing Kota Malang Jawa Timur 65124

cs.ruangsop@gmail.com

Monday – Friday / 09.00 – 16.00 WIB

Shopping cart

0
image/svg+xml

No products in the cart.

Continue Shopping

Powered by
Hubungi Kami
By Ruang SOP
Halo kak, mau bertanya SOP yang mana?