2.Bagaimanakah Kinerja Usaha Biasa?
Usaha biasa identic dengan transaksi yang sangat biasa.Konsumen membeli barang yang dibutuhkan, seperti makanan, pakaian dan sebagainya, kemudian membayarnya secara langsung.Karakteristik usaha biasa pada umumnya adalah sebagai berikut:
Biasanya hanya menyediakan barang yang sangat dibu tuhkan oleh masyarakat di sekitarnya.
Hal-hal seperti pelatihan pegawai, iklan, sistem kerja dan sebagainya, bukanlah sesuatu yang penting.
Aktivitas bisnis berlangsung sering dan terus-menerus. Namun, cenderung tidak ada peningkatan dalam hal la ba, pengunjung atau konsumen dan sebagainya.
Pelaku bisnis hanya satu orang yaitu pemilik usaha, atau terkadang bersama satu atau dua orang pegawai. Di sini,kehadiran pemilik usaha sangatlah penting. Banyak usaha biasa yang hanya dapat berjalan jika pemiliknya hadir.
Pelayanan terhadap konsumen dan kerapian usaha ku rang.
a. Contoh Usaha Biasa yang Ada dalam Kehidupan Sehari-hari Toko kelontong
Usaha toko kelontong dapat dengan mudah ditemukan di sekitar kita. Toko kelontong atau groceries store merupakan sebutan untuk toko kecil bersifat lokal yang menjual kebutuhan sehari-hari, seperti makanan kemasan, minuman kemasan, rokok, sabun hingga obat-obatan. Usaha ini masih bersifat tradisional dan konvensional, dimana pembeli tidak dapat mengambil barang yang diinginkan sendiri, karena rak toko yang belum modern.Hal inilah yangmenjadi pembatas antara penjual dan pembeli.Namun, seiring pesatnya perkembangan ekonomi, toko kelontong ini masih dapatbertahan karena le taknya yang dekat dengan pemukiman serta adanya rasa keke luargaan di antara pembeli dan penjual.
Toko kelontong termasuk dalam usaha eceran tradisional atau biasa disebut ritel tradisional. Usaha ritel adalah semua kegiatan yang terlibat dalam penjualan atau pembelian baik berupa barang, jasa atau keduanya. Kegiatan ini biasanya dila kukan secara sedikit-sedikit langsung kepada konsumen untuk keperluan konsumsi pribadi, keluarga, ataupun rumah tangga dan bukan untuk keperluan bisnis (dijual kembali).
Usaha ritel ini lebih berfokus pada penjualan barang se hari-hari. Adapun ciri-ciri usaha ritel tradisional, meliputi:
tempatnya tidak terlalu luas dan cenderung tidak rapi,
barang yang dijual tidak terlalu banyak jenisnya, biasanya terfokus pada kebutuhan sehari-hari,
sistem pengelolaan atau manajemennya masih sederhana.
tidak menawarkan kenyamanan berbelanja dan masih ada proses tawar-menawar harga dengan pedagang.serta
produk yang dijual tidak dipajang secara terbuka dan pe langgan tidak dapat mengambil sendiri barang yang di inginkan.
Di toko kelontong kelas kecil biasanya pemilik merangkap sekaligus menjadi pegawai la yang membuka toko, menata ba rang-barang hingga melayani pembeli. Untuk toko kelontong kelas menengah atau besar biasanya memiliki beberapa pega wai. Pegawai akan melakukan pemajangan barang, mengepak barang, melayani pelanggan dan juga mengantar barang ke kendaraan pelanggan.
Berikut hal-hal yang dapat menghalangi toko kelontong susah berkembang.
Perputaran modal yang lambat. Dengan modal yang kecil serta kurangnya keinginan mengembangkan usaha, membuat keuntungan yang dihasilkan juga melambat.
Terlalu banyak pesaing. Mudahnya membangun usaha toko ini tentu meningkatkan persaingan. Apalagi biasanya lokasi pesaing saling berdekatan, ditambah jumlah pen duduk disekitar lokasi toko tidak banyak.
Keuntungan yang hanya sedikit digunakan untuk keper luan pribadi. Kurangnya manajerial terutama dalam keu angan dapat menyebabkan hal ini terjadi. Apabila keun tungan yang dihasilkan dari toko tidak sebanding dengan kebutuhan pribadi, misalnya keperluan mendadak yang memerlukan dana besar tentu akan menyebabkan sema kin minimalnya keuntungan yang diperoleh.
Pelayanan Kurang Memuaskan. Pelayanan yang tidak ramah, kurang cekatan, sering salah hitung tentu dapat menyebabkan pelanggan enggan datang ke toko.
b.Pasar Tradisional
Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli yang ditandai dengan adanya transaksi diantara me reka secara langsung. Proses jual-beli biasanya melalui proses tawar menawar harga, dan harga yang diberikan untuk sua tu barang bukan merupakan harga tetap, artinya masih da pat ditawar. Ini yang sangat berbeda dengan pasar modem Umumnya, pasar tradisional menyediakan kebutuhan sehari hari, seperti bahan makanan berupa sayuran, buah-buahan, ikan serta daging, kemudian pakaian, barang elektronik dan lain sebagainya.
Ada pula pasar tradisional yang khusus menyediakan barang tertentu, seperti pasar khusus kue-kue, pasar khusus pakaian, pasar khusus ikan dan sebagainya. Pasar seperti ini masih banyak ditemukan di Indonesia, dan umumnya terletak dekat kawasan perumahan agar memudahkan pembeli untuk mencapai pasar. Beberapa pasar tradisional yang sangat ter kenal antara lain: pasar Beringharjo di Yogyakarta, pasar Klewer di Solo, pasar Johar di Semarang.
Ciri-ciri pasar tradisional antara lain:
proses jual-beli melalui tawar menawar harga.
barang yang disediakan umumnya barang keperluan da pur dan rumah tangga,
biasanya ada proses tawar-menawar,
area yang terbuka dan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang digelar oleh para penjual maupun suatu pengelola pasar,
tidak ber-AC
Pasar tradisional merupakan salah satu pendongkrak per ekonomian kalangan menengah ke bawah. Meskipun begitu, pasar ini masih memiliki beberapa kelemahan. Di antara kele mahan tersebut adalah lokasinya yang kumuh dan kotor, cara pengemasan produk yang kurang menarik, serta maraknya tindak kriminal seperti pencopetan atau pungutan liar. Hal-hal tersebut yang semakin mengancam keberadaan pasar tradisional.
Baca Juga Usaha Biasa & Usaha Bersistem – Bag. 1
Baca Juga Usaha Biasa & Usaha Bersistem – Bag. 3
Baca Juga Usaha Biasa & Usaha Bersistem – Bag. 4
Baca Juga Usaha Biasa & Usaha Bersistem – Bag. 5
Baca Juga Usaha Biasa & Usaha Bersistem – Bag. 6
Baca Juga Usaha Biasa & Usaha Bersistem – Bag. 7
Baca Juga Usaha Biasa & Usaha Bersistem – Bag. 8
Baca Juga Usaha Biasa & Usaha Bersistem – Bag. 9
Sumber Strategi Pintar Menyusun SOP Endah Nur Fatimah, Dkk,2015




