Pekerjaan membuat tahapan kerja ini juga tidak segampang yang dikira. Penyusun SOP harus betul-betul memahami bagaimana cara karyawan melakukan pekerjaannya. Satu-satunya cara adalah melakukan observasi langsung. Penyusun SOP tidak diperbolehkan mengarang atau menggunakan asumsi. Ketika menyusun tahapan seperti ini, saya sering kali harus menunggu, melihat, dan men cermati pekerjaan yang dilakukan karyawan itu. Kemudian saya menganalisis, apakah tahapan kerjanya tersebut perlu disederhanakan atau tidak, perlu ditambah atau dikurangi, mana tahapan yang perlu disempurnakan, bagaimana risikonya, dan sebagainya. Tahapan kerja yang terlalu panjang harus disederhanakan, tetapi tahapan yang sudah pendek jangan dipanjangkan (ingar, jangan birokratis) Pekerjaan ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan bagi yang tidak berpengalaman. Bahkan penyusun SOP yang berpengalaman pun bisa kesulitan jika ia gagal melakukan observasi dan mengenali risikonya.
Jika Anda membeli SOP dari pedagang SOP, yang dijadikan dasar menyusun SOP pasti struktur organisasi dan deskripsi pekerjaan karyawan perusahaan lain. Itu pun kalau benar ada dasarnya. Bagaimana kalau SOP itu ternyata hasil mengarang indah? SOP yang disusun tanpa dasar struktur organisasi dan deskripsi pekerjaan karyawan, biasanya tidak dapat diterapkan. Jauh panggang dari api. Anda rugi.
Baca juga SOP Disusun Tanpa Struktur Organisasi & Deskripsi Pekerjaan – Bag. 4
Baca juga SOP Disusun Tanpa Struktur Organisasi & Deskripsi Pekerjaan – Bag. 3
Baca juga SOP Disusun Tanpa Struktur Organisasi & Deskripsi Pekerjaan – Bag. 2
Baca juga SOP Disusun Tanpa Struktur Organisasi & Deskripsi Pekerjaan – Bag. 1
Sumber MATINYA PERUSAHAAN GARA GARA S.O.P Suryono Ekotama,2018




