A.Kepemimpinan Rasulullah SAW
Kepemimpinan berasal dari bahasa Inggris leadership yang berasal dari kata leader. Kata leader muncul pada tahun 1300-an sedangkan kata leadership muncul kemudian, yaitu sekitar tahun 1700-an.1 Ada banyak definisi pemimpin, salah satunya Henry Pratt Fairchild (1880-1956) mendefinisikan pemimpin sebagai seorang yang memimpin dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisir, atau mengontrol usaha/ upaya orang lain, kekuasaan atau posisi. Sedangkan dalam pengertian sempit yakni seorang yang membimbing, memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya, dan akseptensi (penerimaan) secara sukarela oleh pengikutnya.3
Sebagaimana Rasulullah SAW dalam memimpin serta membimbing umatnya. Rasulullah SAW dikirim sebagai rahmat untuk menunjukkan kepada umatnya jalan yang lurus serta mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, keimanan dan pengetahuan. Hal ini telah disampaikan dalam Al-Qur’an:
وما أرسلتك إلا رØÙ…Ø© للعلمين
Artinya:
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya”: 107).
Ayat tersebut secara definitif (pasti) menyatakan bahwa Rasulullah SAW diutus Allah SWT sebagai rahmat bukan hanya kepada manusia melainkan untuk seluruh makhluk di muka bumi. Kasih sayang Rasulullah SAW bukan hanya kepada manusia, melainkan untuk seluruh makhluk hidup di dunia.
Sedangkan kepemimpinan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah suatu bentuk dari cara memimpin.5 Bisa diartikan dengan keseluruhan tindakan atau kemampuan untuk memengaruhi atau mengajak orang lain sebagai pengikut dalam usaha bersama mencapai tujuan. Kepemimpinan adalah aktivitas memengaruhi orang-orang untuk bekerja sama menuju kepada kesesuaian tujuan yang mereka inginkan. Kepemimpinan adalah tindakan perilaku yang dapat memengaruhi tingkah laku orang-orang lain yang dipimpinnya.
Pada pengertian kepemimpinan di atas disebutkan istilah pengaruh. Pengertian pengaruh di sini adalah daya yang ada atau yang timbul dari seseorang yang ikut membentuk watak dan kepercayaan orang lain atas perbuatan seseorang tersebut. Kemudian ada pula pengaruh yang bersifat karismatik, yaitu daya pikat atau pesona yang diilhami oleh Ilahi yang terekspresi pada pola pikir, keyakinan, sikap. perilaku, tindakan, gerak-gerik, karya, dan penampilan diri.
Hal ini terlihat dalam kepemimpinan Rasulullah SAW yang berhasil memberi pengaruh kepada umatnya sehingga meningkatkan kualitas hubungan di antara umat dan membangun rasa persaudaraan di dalamnya. Selain itu, Rasulullah SAW membuktikan bahwa seorang pemimpin yang baik adalah yang mendorong para pengikutnya agar melayani orang lain untuk bisa unggul dalam kehidupan. Seperti terlihat dalam hadis yang artinya:
“Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang Allah Swt. serahkan kepadanya sebagian urusan orang muslim kemudian ia menutup diri dari melayani kebutuhan mereka dan keperluan mereka, maka Allah menutup diri darinya dan tidak melayani kebutuhannya, serta keperluannya.” (HR. Abu Dawud).
Untuk memahami definisi kepemimpinan secara lebih dalam, ada beberapa definisi kepemimpinan yang dikemukakan oleh para ahli, yaitu:
1.Stephen P. Robbins mengatakan, kepemimpinan adalah kemampuan untuk memengaruhi suatu kelompok ke arah tercapainya tujuan.
2.Richard L. Daft mengatakan, kepemimpinan adalah kemampuan memengaruhi orang yang mengarah kepada pencapaian tujuan.
3.G. R. Terry memberikan definisi: Kepemimpinan adalah usaha memengaruhi seseorang untuk mencapai tujuan bersama.
4.Ricky W. Griffin mengatakan, pemimpin adalah individu yang mampu memengaruhi orang lain tanpa harus mengandalkan kekerasan; pemimpin adalah individu yang diterima oleh orang lain sebagai pemimpin.
Dalam surveinya mengenai teori dan penelitian kepemimpinan, Ralph M. Stogdill mengemukakan bahwa terdapat definisi mengenai kepemimpinan yang berbeda hampir sebanyak orang berusaha mendefinisikan konsep tersebut. James A.F Stoner mendefinisikan kepemimpinan manajerial sebagai proses mengarahkan dan memengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan tugas dari anggota kelompok. Ada empat implikasi penting dalam definisi ini. Pertama, kepemimpinan melibatkan orang lain karyawan atau pengikut Dengan kemauan mereka menerima pengarahan dari pemimpin, angggota kelompok membantu mendefinisikan status pemimpin dan membuat proses kepemimpinan menjadi mungkin; tanpa orang yang dipimpin, semua mutu kepemimpinan dari seorang manajer menjadi tidak relevan.
Kedua, kepemimpinan melibatkan distribusi kekuasaan yang tidak merata antara pemimpin dan anggota kelompok. Anggota kelompok bukannya tanpa kekuasaan; mereka dapat dan membentuk aktivitas kelompok dengan berbagai cara. Sekalipun demikian, pemimpin biasanya mempunyai kekuasaan yang lebih besar.
Jadi, aspek ketiga dari kepemimpinan adalah kemampuan menggunakan berbagai bentuk kekuasaan untuk memengaruhi tingkah laku pengikut dengan berbagai cara. Sebenarnya, pemimpin telah memengaruhi karyawan untuk melakukan pengorbanan pribadi demi kebaikan perusahaan. Kekuasaan ini membawa kita ke aspek keempat dari kepemimpinan. Aspek keempat dari kepemimpinan menggabungkan tiga aspek pertama dan mengakui bahwa kepemimpinan adalah mengenai nilai. James McGregor Burns mengatakan bahwa pemimpin yang mengabaikan komponen moral kepemimpinan mungkin dalam sejarah dikenang sebagai penjahat, atau lebih jelek lagi.
Kepemimpinan moral menyangkut nilai-nilai dan persyaratan bahwa para pengikut diberi cukup pengetahuan mengenai alternatif agar dapat membuat pilihan yang telah dipertimbangkan kalau tiba saatnya memberikan respons pada usulan pemimpin untuk memimpin. Kepemimpinan ini adalah kepemimpinan tingkat manajemen. Manajemen adalah suatu proses kegiatan fungsi-fungsi manajemen itu, yaitu: fungsi perencanaan (planning), fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi staf (staffing), pengarahan (directing) dan pengawasan (controlling). Dilihat dari fungsi ini maka kepemimpinan manajemen adalah pemimpin yang mengordinir semua fungsi ini,yang menentukan kebijaksanaan (policy) dan penanggungjawab dari semua proses dan kegiatan suatu organisasi atau satuan rumah tangga.
Baca Juga MANAJEMEN KEPEMIMPINAN – Bag.2
Baca Juga MANAJEMEN KEPEMIMPINAN – Bag.3
Baca Juga MANAJEMEN KEPEMIMPINAN – Bag.4
Baca Juga MANAJEMEN KEPEMIMPINAN – Bag.5
Baca Juga MANAJEMEN KEPEMIMPINAN – Bag.6
Baca Juga MANAJEMEN KEPEMIMPINAN – Bag.7
Baca Juga MANAJEMEN KEPEMIMPINAN – Bag.8
Baca Juga MANAJEMEN KEPEMIMPINAN – Bag.9
Baca Juga MANAJEMEN KEPEMIMPINAN – Bag.10
Sumber Manajemen Sumber Daya Manusia Di Era Revolusi Industri 4.0 Dr Sitti Nurbaya S.pd,MM,2020




