Teori perilaku kepemimpinan merupakan teon yang mengemukakan bahwa perilaku khusus membedakan pemimpin dari bukan pemimpin. Teori prilaku berdasarkan suatu penelitian di Universitas Negeri Ohio melahirnya dua dimensi yang disebut sebagai struktur prakarsa dan pertimbangan. Perilaku kepemimpinan menurut struktur prakarsa merujuk ke sejauhmana pemimpin berkemungkinan menetapkan dan menyusun perannya dan peran bawahannya dalam mengupayakan pencapaian sasaran. Struktur ini mencakup perilaku yang berupaya mengorgnisasi kerja, hubungan kerja dan sasaran. Sedangkan pertimbangan digambarkan sebagai sejauhmana seorang pemimpin berkemungkinan memiliki hubungan pekerjaan yang dicirikan dengan rasa saling percaya, menghargai gagasan bawahan dan memperhatikan perasaan bawahan.
Selanjutnya perilaku kepemimpinan yang berorientasi karyawan dideskripsikan sebagai penekanan pada hubungan antar manusia, memberikan perhatian pribadi terhadap kebutuhan karyawan dan menerima perbedaan individual diantara para anggota. Perilaku kepemimpinan selanjutnya yaitu berorientasi produksi, di mana pemimpin menekankan pada aspek-aspek teknis atau tugas atas pekerjaan tertentu.
Penggambaran grafis atas pandangan dua dimens gaya kepemimpinan dikembangkan oleh Blake dan Mouton mengemukakan bahwa kisi-kisi manajerial seringkali dikenal sebagai kisi-kisi kepemimpinan yaitu matriks sembilan kali sembilan yang menjabarkan 81 gaya kepemimpinan yang berbeda berdasarkan pada gaya kepedulian akan orang dan kepedulian akan produksi. Selain itu, premis dasar dari hakikat perilaku kepemimpinan adalah pemimpin yang efektif dengan menampakkan perilaku yang berorientasi pengembangan, yaitu pemimpin yang menghargai eksperimentasi, mencari ide-ide baru serta menciptakan dan mengimplementasikan perubahan.
Teori kontinjensi meliputi beberapa pendekatan dalam gaya kepemimpinan seseorang yaitu model Fiedler, teori situasi Hersey dan Blanchard, teori pertukaran pemimpin-anggota, model jalur sasaran serta model partisipasi-pemimpin. Model Fiedler merupakan model kemungkinan menyeluruh pertama untuk kepemimpinan yang mengemukakan bahwa kinerja kelompok efektif bergantung pada penyesuaian yang tepat antara gaya pemimpin dalam interaksi dengan bawahan dan tingkat mana situasi tertentu memberikan kendali dan pengaruh ke pemimpin itu. Faktor kunci dari model ini adalah gaya kepemimpinan dasar individu yang dinilai dengan LPC yaitu kuesioner mitra kerja paling dihindari. Selanjutnya menyesuaikan pemimpin dengan situasi dan mengevaluasi. Dalam evaluasi, secara keseluruhan kajian dilakukan untuk menguji kesahihan keseluruhan model Fiedler yang menghasilkan kesimpulan secara umum positif.
Model Fiedler juga menyajikan teori sumberdaya kognitif yaitu teori kepemimpinan yang menyatakan bahwa stress secara negatif mempengaruhi situasi dan bahwa intelegensia dan pengalaman dapat mengikis pengaruh stress yang dialami pemimpin. Hakikat teori ini adalah stress merupakan musuh rasionalitas. Sulit bagi para pemimpin atau siapa saja yang mengatasi masalah itu untuk berfikir secara logis dan analitis ketika berada dalam stress. Meskipun teori ini masih baru, namun dapat mengembangkan badan pendukung penelitian yang kokoh. Artinya, dalam situasi stress yang tinggi, individu-individu yang cerdas berkinerja lebih buruk dalam peran kepemimpinan dibanding mitra yang kurang cerdas. Dan ketika stres rendah, individu yang berpengalaman berkinerja lebih buruk daripada orang yang kurang berpengalaman.
Teori situasional Hersey dan Blancard mengembangkan model kepemimpinan yang memperoleh pengikut kuat di kalangan spesialis pengembangan manajemen. Model ini disebut teori kepemimpinan situasional (situational leadership theory SLT). Kepemimpinan situasional merupakan teori kontijensi yang memusatkan perhatian pada para pengikut. Kepemimpinan yang berhasil dicapai dengan memilih gaya kepemimpinan yang tepat dan bersifat pada tingkat kesiapan dan kedewasaan.
SLT pada hakikatnya memandang hubungan pemimpin pengikut dengan analogi hubungan orang tua dan anak. Teori ini mengidentifikasi empat perilaku pemimpin spesifik. Mulai dari yang sangat direktif sampai yang sangat bebas. Perilaku yang paling efektif tergantung pada kemampuan dan motivasi pengikut. SLT memiliki daya tarik intuitif. Teori tersebut mengakui pentingnya pengikut dan membangun berdasarkan logika bahwa pemimpin dapat mengkompensasikan kemampuan dan batas-batas motivasi pengikut mereka. Oleh karena itu meski memiliki daya tarik intuitif dan popularitas luas, sekurang-kurangnya pada titik waktu ini, pengesahan yang antusias apapun atas teori itu harus disikapi secara berhati-hati.
Teori pertukaran pemimpin-anggota yaitu para pemimpin membangun hubungan yang istimewa dengan kelompok kecil bawahan mereka. Individu ini terbentuk menjadi kelompok dalam, dan dipercaya mendapat perhatian lebih dari pemimpin dan berkemungkinan lebih besar mendapat hak istimewa. Teori tersebut mengemukakan bahwa pada permulaan sejarah mengenai interaksi antara pemimpin dan bawahan tertentu, si pemimpin secara implisit mengkategorikan bawahan itu sebagai orang dalam atau luar dan hubungan itu relatif stabil dari waktu ke waktu. Hal kunci yang harus diketahui adalah bahwa walaupun pemimpin yang melakukan pemilihan, karakteristik pengikutlah yang mendorong keputusan kategorisasi oleh pemimpin.
Berikut teori jalur sasaran yaitu teori yang menyatakan bahwa tugas pemimpin adalah mendampingi pengikut dalam meraih sasaran mereka dan memberikan pengarahan dan/atau dukungan yang perlu untuk menjamin sasaran selaras dengan sasaran keseluruhan kelompok atau organisasi. Beberapa ilustrasi mengenai teori jalur sasaran dalam kepemimpinan adalah kepemimpinan direktif, kepemimpinan suportif, bawahan yang memiliki lokus kendali internal dan kepemimpinan yang berorientasi prestasi.
Baca Juga MANAJEMEN KEPEMIMPINAN – Bag.1
Baca Juga MANAJEMEN KEPEMIMPINAN – Bag.2
Baca Juga MANAJEMEN KEPEMIMPINAN – Bag.3
Baca Juga MANAJEMEN KEPEMIMPINAN – Bag.4
Baca Juga MANAJEMEN KEPEMIMPINAN – Bag.5
Baca Juga MANAJEMEN KEPEMIMPINAN – Bag.6
Baca Juga MANAJEMEN KEPEMIMPINAN – Bag.7
Baca Juga MANAJEMEN KEPEMIMPINAN – Bag.9
Baca Juga MANAJEMEN KEPEMIMPINAN – Bag.10
Sumber Manajemen Sumber Daya Manusia Di Era Revolusi Industri 4.0 Dr Sitti Nurbaya S.pd,MM,2020




